Thursday, August 12, 2004

MENULIS DENGAN HATI

Oleh Satrio Arismunandar

Pernahkah engkau membaca sebuah puisi, novel, essay, atau artikel, dan dadamu kemudian terasa sesak? Engkau ingin menangis, ingin berjuang, ingin marah, ingin mengubah dunia?

Tetapi di sisi lain, banyak sekali bacaan yang sambil lalu lewat di kepalamu, dan segera terlupakan tanpa kesan apapun. Apa yang membedakan keduanya?

"Kemampuan menggerakkan hati pembaca". Inilah kualitas yang membedakan tulisan yang dibuat sekadar jadi, sebagai bagian dari produk massal industri media, dan tulisan yang dibuat dengan "menggunakan hati."

Tulisan "dengan hati" yang kumaksud adalah tulisan yang mengalir dari jiwa, dari sukmamu. Begitulah menulis yang benar, menulis dari getar hati terdalam. Getaran hati itu mengalir ke sekujur tubuhmu, ke tanganmu, ke jari jemari yang menekan keyboard komputer, atau menggoreskan pena di kertas. Dan akhirnya ke untaian kalimat dan kata-kata yang dibaca orang lain.

Suatu tulisan bisa menggetarkan jiwa si pembaca, jika ia memang ditulis dengan gerak hati, gerak jiwa, gerak sukma. Karena jiwa yang satu bisa menangkap getaran jiwa yang lain, walau terpisah seribu kota, walau fisikmu tak tampak di mata. Itulah sebabnya orang bisa menangis ketika membaca Al Quran, Alkitab atau Bhagawad Gita. Atau bahkan novel-novel Pramudya Ananta Toer.

Kata-kata itu terbang, seperti kupu-kupu di taman hati, karena memiliki kekuatannya sendiri, kekuatan jiwa si penulisnya. Begitulah adanya. Maka, menulislah dengan jiwa. Tuangkan kata-katamu seperti matahari menyiramkan cahaya...begitu saja...

Tendean, 11 Agustus 2004

Wajah Singapura dan Kerinduan Manusiawi

Oleh : Satrio Arismunandar

Kalau mendengar nama Singapura, yang selalu terbayang di benak saya adalah sebuah negeri kecil yang makmur, dengan penduduk yang giat bekerja, serta pemerintahan yang efisien, efektif dan relatif bersih dari korupsi. Singapura adalah surga di Asia, bagi mereka yang mengidamkan kebersihan, kerapihan, keteraturan, kemajuan dan kecanggihan teknologi.
Tidak perlu menjadi seorang pakar, untuk memahami hal itu. Cukup dengan berputar-putar sebentar di bandara Changi atau menaiki kereta MRT (mass rapid transit) di pusat kota, dan kesan-kesan yang saya sebutkan tadi akan terasa. Di Singapura, semua serba teratur dan terencana.
Efisiensi, efektivitas dan kemajuan adalah tuntutan kehidupan modern. Singapura diakui sangat berhasil dalam hal-hal ini. Namun, itu semua bukanlah segalanya. Manusia, dan tentunya rakyat Singapura sendiri, juga membutuhkan sesuatu yang lain. Karena pada akhirnya, seluruh sistem kehidupan modern itu ditujukan untuk membahagiakan manusia, bukan sekadar untuk mengejar “kemajuan”.
Dan apakah “sesuatu yang lain” itu? Wajah dan nuansa manusiawi. Sesuatu yang membuat kita sadar dan bahagia, bahwa kita adalah manusia. Bukan mesin, dan bukan sekadar sekerup dari mesin yang lebih besar lagi.
Ketika kedatangan saya disambut dengan senyum oleh seorang pelayan toko, saya menginginkan itu senyum yang tulus dari seorang manusia. Bukan sekadar mesin yang diprogram lewat komputer, untuk menggerakkan mulut dengan sudut kemiringan tertentu, sekadar untuk mengejar target profit lewat penjualan barang.
Di Singapura, untuk menjaga seluruh efisiensi, efektivitas dan keteraturan sistem, dibuat berbagai peraturan yang begitu lengkap dan rinci. Seolah-olah, tak ada ruang yang tak dijangkau peraturan. Tetapi bagaimana menanggapi kreativitas manusia, yang seringkali tidak terjangkau oleh peraturan? Karena, kalau kreativitas bisa dikungkung dalam sebuah peraturan, bagaimana peradaban kita bisa berkembang?
Obsesi pada keteraturan dan pengaturan, membuat Singapura gamang menghadapi keterbukaan, kreativitas, perbedaan pandangan, dan sebagainya. Semua itu sering diasosiasikan dengan potensi terjadinya kekacauan sistem, serta rusaknya kemakmuran dan standar hidup warga yang selama ini telah dinikmati.
Cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, memutlakkan cara pandang tersebut adalah juga berlebihan. Karena mengakomodasi keterbukaan, kreativitas dan perbedaan pandangan adalah manusiawi. Persoalannya, adalah bagaimana mensinergikan berbagai unsur yang tarik-menarik ini, untuk memajukan negeri Singapura dengan tetap mempertahankan wajah manusiawinya.
Saya sungguh percaya, Singapura masih bisa bergerak lebih maju. Namun, caranya bukan dengan meningkatkan efisiensi, efektivitas dan kemajuan teknologi, melainkan lebih pada pengembangan wajah Singapura yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, Singapura akan menjadi negeri yang lebih utuh dan lebih lengkap. Singapura juga akan memberi sumbangan berarti, bagi terwujudnya keluarga besar bangsa-bangsa Asia, yang bukan hanya lebih maju, namun –yang tak kalah penting-- juga lebih berbahagia. ***