Friday, July 07, 2006

Rajawali Kesepian

Monday, July 03, 2006

Starbucks, Aku, dan Teman-temanku

Oleh: Satrio Arismunandar


Kawan, apa komentarmu jika kuberitahu, warna-warni kehidupanmu akan tercermin pada pilihan dan seleramu terhadap aroma kopi? Ah, omong kosong apa pula ini! Ya, kau mungkin akan berkata begitu. Aku mengerti. Tapi percayalah, pemahaman tentang relasi antara kehidupan dan selera terhadap aroma kopi itulah yang membuatku betah, nongkrong berjam-jam di gerai Starbucks Coffee.

Ini bukan cerita tentang betapa mengasyikkannya menghirup kopi panas di kafe, ketika langit senja sedang kemerah-merahan, sesudah bebas dari hiruk pikuk kesibukan kantor. Sekadar pelepasan dari kepengapan suasana kantor seperti itu, aku sudah lama tahu. Yang akan kuceritakan ini lebih dari itu.

Menit-menit yang kulalui di gerai Starbucks ini mengajarkan padaku banyak hal tentang kehidupan, tentang teman-temanku, dan terakhir --yang tak kalah penting—tentang diriku sendiri. Akan kumulai dengan cerita tentang teman-temanku. Ya, sebagai wartawan yang bekerja di sebuah stasiun televisi nasional, aku memang biasa bergaul dengan teman dari berbagai kalangan.

Cahyo Wibowo, misalnya. Dia mantan narasumberku di sebuah bank swasta nasional papan atas. Sesudah krisis moneter 1997 dan banyak bank swasta rontok, dia pindah menjadi Kepala HCD (Human Capital Division) di sebuah perusahaan asuransi nasional. Meski sudah beda kantor, aku masih sering bertemu Cwibo –demikian nama panggilan akrabnya-- di gerai Starbucks buat berbagi cerita.

Wajahnya yang beraut keras, dan gaya bicaranya yang tenang tapi blak-blakan, penuh percaya diri, mengisyaratkan, Cwibo adalah orang yang sudah mengalami banyak pasang-surut kehidupan. “Kenyataan hidup itu lebih banyak pahitnya, ketimbang manisnya. Kau tahu, jutaan orang mati tiap tahun karena TBC, kanker, dan bahkan kelaparan. Padahal uang miliaran dollar, yang seharusnya bisa digunakan untuk menghapuskan penyakit dan kemiskinan, malah dihabiskan untuk perang dan persenjataan,” ujarnya padaku.

Kesukaan Cwibo adalah kopi pahit atau kopi yang sesedikit mungkin menggunakan gula. Di gerai Starbucks, ia biasa memesan Americano, yaitu campuran kopi Espresso dengan air panas. “Aku ingin melihat kehidupan ini senyata-nyatanya, se-real mungkin. Tanpa bunga-bunga, tanpa basa-basi. Maka, aku suka kopi pahit, karena pahit adalah rasa asli kopi,” sambungnya.

***
Lain Cwibo, lain pula Dwi Anggraini. Aku mengenalnya sebagai seorang perintis bisnis yang ulet. Sesudah lulus dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti, bukannya menjalani karir di bidang hukum atau menjadi lawyer, gadis bertubuh sintal ini malah menggeluti bisnis penjualan kucing Persia untuk kalangan kelas menengah di Jakarta. Wow! Benar-benar pilihan karir yang tak terbayangkan!

Segmen pasar untuk jenis hewan peliharaan yang berbulu tebal dan imut itu rupanya lumayan besar. Selain itu, Dwi adalah jenis orang yang tak mau menyia-nyiakan peluang bisnis. Sama seperti seleranya yang unik terhadap kucing, dia tak mau kopi yang biasa-biasa saja. Yang disukai gadis berbintang Virgo ini adalah Coffee Frappuccino dengan aroma Caramel.

“Kau pasti bisa hidup tanpa kucing, Rio. Semua orang juga begitu,” ucapnya. “Namun, kehadiran seekor kucing Persia, yang mungil dan lucu akan membuat suasana di rumahmu lebih meriah. Anak-anak pun pasti akan suka tinggal dan bermain di sana. Apa salahnya memberi sedikit sentuhan, untuk membuat hidupmu jauh lebih berwarna? Sedikit aroma Caramel di kopimu juga akan memberi nuansa seperti itu.”

Hmm, menarik juga. Selera yang lain lagi kutemukan pada Ahmad Mujahidin, atau aku biasa memanggilnya Didin. Pemuda kurus yang kuat merokok ini adalah mantan aktivis mahasiswa dan pendukung militan gerakan reformasi. Pada bulan Mei 1998, dia termasuk salah satu pentolan mahasiswa yang membawa ribuan massa, menduduki gedung MPR/DPR di Senayan.

Didin baru menyelesaikan kuliah politiknya di Universitas Indonesia setelah pemerintahan Orde Baru jatuh. Bakat politiknya dipantau oleh sebuah partai politik besar. Didin pun direkrut dan kini menjadi salah satu petinggi di partai tersebut. Kabarnya, ia akan dimajukan sebagai calon anggota DPR-RI mewakili partainya, untuk pemilihan umum 2009 nanti.

Semangatnya yang berapi-api sangat pas dengan citarasanya pada kopi. Ia suka Caffe Mocha, atau kopi apapun yang beraroma Mocha atau cokelat. “Cokelat adalah sejenis aphrodisiac, zat yang memberi gairah dan semangat. Hidup ini tak berarti tanpa gairah, tanpa spirit, dan tanpa perubahan. Semua itulah yang membuat kita merasa betul-betul hidup, bukan sekadar bernapas,” ucap Didin.

***
Dalam hal gairah terhadap kehidupan, Emy Normanda punya kemiripan dengan Didin. Bedanya, Emy kurang berminat pada politik dan urusan kenegaraan. Aneh, karena Emy sebetulnya adalah lulusan Jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Gadis yang wajahnya mirip Laudya Cynthia Bella, pemeran utama film Virgin, ini sedang merintis karir sebagai fotomodel dan presenter. Dia memang belum jadi top model, namun wajahnya mulai sering tampil di berbagai sampul muka majalah wanita di ibukota.

Berbeda dengan Didin, Cwibo dan Dwi, yang mengambil keputusan secara tegas dan jelas, Emy selalu menghabiskan banyak waktu untuk memilih. Ia selalu bimbang dan banyak pertimbangan. Sering pelayan di gerai Starbucks harus menunggu lama, sebelum Emy memutuskan, mau minum Coffee Alternative aroma raspberry atau mango citrus. Kalau memilih minuman yang bebas kafein saja butuh proses lama, apalagi dalam urusan yang lebih serius: soal jodoh. Dalam urusan yang satu ini, ia juga serba ragu.

“Ada dua cowok yang sedang mendekati aku,” tutur Emy. “Yang satu, Edy. Dia insinyur mesin dan kerja di BPP Teknologi. Satunya lagi, Rubi, manajer pemasaran di sebuah perusahaan farmasi multinasional. Edy orangnya setia, tetapi pencemburu berat dan suka membatasi. Sedangkan Rubi, karirnya sedang menanjak. Secara ekonomi, ia juga lebih mapan ketimbang Edy. Namun ia agak playboy, nggak bisa lihat cewek cakep. Aku harus pilih yang mana ya?”

Ah, pertanyaan Emy jadi mengingatkanku bahwa hidup sebenarnya adalah sebuah pilihan. Perjalanan hidup kita berisi rangkaian pilihan dan keputusan. Sedangkan persoalan umum sebelum memilih dan memutuskan adalah kurangnya informasi. Tanpa informasi yang cukup, pilihan yang kita ambil bisa jadi bukan yang terbaik.

***
Ini cerita soal pilihan. Aku ingat, ketika pertama kali melangkah masuk ke gerai Starbucks, aku sempat dibingungkan oleh banyaknya pilihan, yang tidak semuanya kukenal benar. Pelayan bertanya, “Mau pesan apa, Pak? Coffee Frappuccino dengan Caramel, Espresso, Mocha atau Rhumba? Atau mau coba Green Tea?”

“Coba jelaskan, bedanya Mocha dan Rhumba itu apa? Lalu, Green Tea itu isi campurannya apa saja?” Itu adalah reaksi pertamaku. Reaksi khas wartawan, mengumpulkan informasi.

“Sudahlah, Rio. Pakai Rhumba saja. Saya jamin enak kok,” ujar Icha Lidya Melanrosa, yang mengajakku ke gerai ini.

Gadis bertubuh tinggi dan berambut ekstra pendek ini adalah aktivis Solidaritas Perempuan. Icha sudah dua tahun aktif di lembaga nonpemerintah tersebut, yang misinya adalah membela kaum perempuan, korban kekerasan dalam rumah tangga. Mungkin ada alasan pribadi, mengapa ia begitu getol aktif di organisasi ini. Kudengar, sebelum putus dengan pacarnya dua tahun lalu, pacarnya pernah menampar Icha. Pengalaman itu tampaknya sangat menyakitkan.

Tanpa menunggu jawabanku, Icha langsung memesan Coffee Frappuccino dengan aroma Rhumba untuk dia sendiri. Akhirnya, tanpa banyak pikir lagi, aku pun memesan minuman yang sama. Nah, baru kusadari, aku telah memilih tanpa dukungan informasi yang memadai. Sekali ini, pilihanku hanya berdasarkan spontanitas, mengikuti saran subyektif Icha. Untunglah, pilihanku tepat. Coffee Frappuccino dengan Rhumba lumayan lezat.

Beberapa minggu kemudian, kembali aku dan Icha berkencan di gerai Starbucks. Sambil menikmati kopi, kusampaikan pandanganku tentang relasi antara pilihan-pilihan hidup dan pilihan terhadap aroma kopi. Icha mendengarkan penuturanku dengan sabar, lalu berkata, “Kau benar, Rio. Esensi hidup kita adalah mengambil keputusan dan memilih.”

“Bukan benar atau salahnya keputusan itu yang menjadi persoalan. Sebagai manusia, sekali dua kali, kita pasti melakukan kesalahan. Tapi yang lebih penting adalah keberanian untuk memilih, keberanian untuk mengambil keputusan! Orang yang tak berani memutuskan berarti tidak menjalani hidup yang sejati,” tambahnya.

Aduh, mendengar ucapan Icha itu, aku merasa dihadapkan pada pilihan lain lagi. Belum pernah terjadi, seorang gadis bicara seperti itu padaku. Harus kuakui, aku merasa terkesan. Kini, aku merasa terdorong untuk mengambil pilihan yang lebih bermakna untuk hidupku, yang selama ini lebih banyak tersita untuk kerja dan karir.

Aku sekarang masih lajang, meski usiaku sudah 32 tahun. Pekerjaanku sebagai wartawan juga cukup mapan, meski gajiku masih sedikit di bawah level gaji manajer menengah. Icha juga kutahu saat ini sedang “kosong,” alias tak punya pacar.

Apakah hubunganku dengan Icha akan tetap sebagai teman dekat, seperti yang berlangsung selama ini, atau akan beranjak ke tingkatan yang lebih serius? Mungkin sudah nasibku. Di gerai Starbucks ini, aku selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Sekarang kau mengerti, bukan, mengapa kehidupanku selalu terkait erat dengan Starbucks? ***

Thursday, August 12, 2004

MENULIS DENGAN HATI

Oleh Satrio Arismunandar

Pernahkah engkau membaca sebuah puisi, novel, essay, atau artikel, dan dadamu kemudian terasa sesak? Engkau ingin menangis, ingin berjuang, ingin marah, ingin mengubah dunia?

Tetapi di sisi lain, banyak sekali bacaan yang sambil lalu lewat di kepalamu, dan segera terlupakan tanpa kesan apapun. Apa yang membedakan keduanya?

"Kemampuan menggerakkan hati pembaca". Inilah kualitas yang membedakan tulisan yang dibuat sekadar jadi, sebagai bagian dari produk massal industri media, dan tulisan yang dibuat dengan "menggunakan hati."

Tulisan "dengan hati" yang kumaksud adalah tulisan yang mengalir dari jiwa, dari sukmamu. Begitulah menulis yang benar, menulis dari getar hati terdalam. Getaran hati itu mengalir ke sekujur tubuhmu, ke tanganmu, ke jari jemari yang menekan keyboard komputer, atau menggoreskan pena di kertas. Dan akhirnya ke untaian kalimat dan kata-kata yang dibaca orang lain.

Suatu tulisan bisa menggetarkan jiwa si pembaca, jika ia memang ditulis dengan gerak hati, gerak jiwa, gerak sukma. Karena jiwa yang satu bisa menangkap getaran jiwa yang lain, walau terpisah seribu kota, walau fisikmu tak tampak di mata. Itulah sebabnya orang bisa menangis ketika membaca Al Quran, Alkitab atau Bhagawad Gita. Atau bahkan novel-novel Pramudya Ananta Toer.

Kata-kata itu terbang, seperti kupu-kupu di taman hati, karena memiliki kekuatannya sendiri, kekuatan jiwa si penulisnya. Begitulah adanya. Maka, menulislah dengan jiwa. Tuangkan kata-katamu seperti matahari menyiramkan cahaya...begitu saja...

Tendean, 11 Agustus 2004

Wajah Singapura dan Kerinduan Manusiawi

Oleh : Satrio Arismunandar

Kalau mendengar nama Singapura, yang selalu terbayang di benak saya adalah sebuah negeri kecil yang makmur, dengan penduduk yang giat bekerja, serta pemerintahan yang efisien, efektif dan relatif bersih dari korupsi. Singapura adalah surga di Asia, bagi mereka yang mengidamkan kebersihan, kerapihan, keteraturan, kemajuan dan kecanggihan teknologi.
Tidak perlu menjadi seorang pakar, untuk memahami hal itu. Cukup dengan berputar-putar sebentar di bandara Changi atau menaiki kereta MRT (mass rapid transit) di pusat kota, dan kesan-kesan yang saya sebutkan tadi akan terasa. Di Singapura, semua serba teratur dan terencana.
Efisiensi, efektivitas dan kemajuan adalah tuntutan kehidupan modern. Singapura diakui sangat berhasil dalam hal-hal ini. Namun, itu semua bukanlah segalanya. Manusia, dan tentunya rakyat Singapura sendiri, juga membutuhkan sesuatu yang lain. Karena pada akhirnya, seluruh sistem kehidupan modern itu ditujukan untuk membahagiakan manusia, bukan sekadar untuk mengejar “kemajuan”.
Dan apakah “sesuatu yang lain” itu? Wajah dan nuansa manusiawi. Sesuatu yang membuat kita sadar dan bahagia, bahwa kita adalah manusia. Bukan mesin, dan bukan sekadar sekerup dari mesin yang lebih besar lagi.
Ketika kedatangan saya disambut dengan senyum oleh seorang pelayan toko, saya menginginkan itu senyum yang tulus dari seorang manusia. Bukan sekadar mesin yang diprogram lewat komputer, untuk menggerakkan mulut dengan sudut kemiringan tertentu, sekadar untuk mengejar target profit lewat penjualan barang.
Di Singapura, untuk menjaga seluruh efisiensi, efektivitas dan keteraturan sistem, dibuat berbagai peraturan yang begitu lengkap dan rinci. Seolah-olah, tak ada ruang yang tak dijangkau peraturan. Tetapi bagaimana menanggapi kreativitas manusia, yang seringkali tidak terjangkau oleh peraturan? Karena, kalau kreativitas bisa dikungkung dalam sebuah peraturan, bagaimana peradaban kita bisa berkembang?
Obsesi pada keteraturan dan pengaturan, membuat Singapura gamang menghadapi keterbukaan, kreativitas, perbedaan pandangan, dan sebagainya. Semua itu sering diasosiasikan dengan potensi terjadinya kekacauan sistem, serta rusaknya kemakmuran dan standar hidup warga yang selama ini telah dinikmati.
Cara pandang seperti itu tidak sepenuhnya keliru. Namun, memutlakkan cara pandang tersebut adalah juga berlebihan. Karena mengakomodasi keterbukaan, kreativitas dan perbedaan pandangan adalah manusiawi. Persoalannya, adalah bagaimana mensinergikan berbagai unsur yang tarik-menarik ini, untuk memajukan negeri Singapura dengan tetap mempertahankan wajah manusiawinya.
Saya sungguh percaya, Singapura masih bisa bergerak lebih maju. Namun, caranya bukan dengan meningkatkan efisiensi, efektivitas dan kemajuan teknologi, melainkan lebih pada pengembangan wajah Singapura yang lebih manusiawi.
Dengan demikian, Singapura akan menjadi negeri yang lebih utuh dan lebih lengkap. Singapura juga akan memberi sumbangan berarti, bagi terwujudnya keluarga besar bangsa-bangsa Asia, yang bukan hanya lebih maju, namun –yang tak kalah penting-- juga lebih berbahagia. ***